JOURNAL CAMPUS PELATIHAN NASIONAL

MENGENAL DAN MENGELOLA STRES

MENGENAL DAN MENGELOLA STRES

Oleh : Sofia Nurkemala, M.Psi., Psikolog

 

Secara awam stres sering diartikan sebagai kondisi tegang yang tidak menyenangkan, di mana seseorang secara ‘subjektif’ merasa ada ‘sesuatu’ yang membebaninya. Kata stres berasal dari bahasa latin ‘stringere’ yang berarti keras (strictus) yang akhirnya istilah itu berkembang terus menjadi stress, strest dan straice (Cox, 1978).

Menurut Lazarus dan Folkman, stres merupakan bentuk interaksi antara individu dengan lingkungan yang dinilai individu sebagai sesuatu yang membebani, melampaui kemampuan yang dimilikinya serta mengancam kesejahteraannya. Dengan kata lain, stres merupakan kondisi ketidakseimbangan yang menimbulkan ketidaknyamanan ataupun ketidakleluasaan sebagai reaksi dari individu terhadap tuntutan lingkungan yang dirasakan menekan dan mengganggu, termasuk mengganggu kondisi fisiologis, psikologis, dan perilaku, serta membebani dan melampaui kemampuan yang dimiliki individu bersangkutan.

Seseorang yang mengalami stres berarti berada dalam keadaan yang menekan. Dengan demikian, seseorang dituntut untuk dapat mengatasi keadaan yang menekan tersebut. Ringan atau beratnya tekanan tergantung kemampuan seseorang dalam menahan hal yang membuat ia stres. Pada satu sisi stres dapat bermakna positif dimana dapat menggerakkan terbentuknya suatu usaha penyesuaian diri lebih tinggi dan efektif. Hal ini dikarenakan stres yang dialami dapat terangkum dan bangkit menjadi sejumlah kekuatan atau sumber daya untuk menghadapi persoalannya. Sementara di sisi lain, stres bisa dimaknai negatif. Jika tuntutan yang dihadapi individu terjadi berulang-ulang dan berlangsung lama, serta tidak berhasil ditanggulangi dan individu merasakan ancaman, maka stres tersebut justru menyebabkan trauma yang dapat merusak penyesuaian efektif yang dimiliki oleh individu sehingga dapat mengalami gangguan fisik, psikis dan perilaku (Goldstein DS. Adrenal responses to stress. Cell Mol Neurobiol. 2010).

Sumber-sumber stres mencakup tuntutan-tuntutan yang didasari oleh kondisi fisik maupun psikososial, dimana dampaknya pada individu sangat dipengaruhi oleh kerentanan terhadap stres tersebut dan juga keadekuatan dari sistem pertahanan dirinya. Jadi stres disini tidak hanya tergantung pada kondisi eksternal melainkan juga tergantung pada kerawanan tubuh dari individu yang bersangkutan dan persepsi individu terhadap situasi yang dihadapi (Sutin AR, Costa PT Jr, Wethington E, Eaton W. Perception of stressful life events as turning points are associated with self-rated health and psychological distress. Anxiety Stress Coping: 2010) Toleransi individu pun menentukan apakah kapasitas stres yang dimiliki masih dapat ditolerir oleh individu sebelum fungsi psikis menjadi terganggu. Daya tahan biologis dan psikologis dari tiap orang berbeda-beda dalam kepekaan terhadap stres, oleh karena itu setiap orang mempunyai toleransi yang berbeda terhadap situasi stres.

Dukungan sosial yang diperoleh juga termasuk hal yang menentukan stres yang dihayati. Kehadiran orang lain dapat mempengaruhi bagaimana individu mengalami stres dan berinteraksi terhadap stres tersebut. Kehadiran rekan kerja dapat meningkatkan kepercayaan diri individu. Kemudian adanya perbedaan individu; dalam hal ini karakteristik kepribadian, dapat menjelaskan beberapa perbedaan seseorang dalam mengalami stres dan cara berinteraksi terhadap stres. Individu yang terbuka akan pengalaman maupun hal-hal baru akan lebih siap menghadapi setiap perubahan yang mungkin terjadi, karena ia menganggap perubahan sebagai tantangan dan bukan sebagai ancaman.

Dampak Stres

Akibat dari stres banyak dan bermacam-macam. Ada sebagian yang positif seperti meningkatkan motivasi, tergugah untuk bekerja lebih giat lagi, atau mendapat inspirasi untuk hidup lebih baik lagi. Tetapi banyak diantaranya yang merusak dan berbahaya. T. Cox (1978: 92) telah mengidentifikasikan efek dari stres yang mungkin muncul, yaitu :

  1. Dampak subyektif : kekhawatiran/ kegelisahan, kelesuan, kebosanan, depresi, keletihan, frustrasi, kehilangan kesabaran, perasaan terkucil, dan merasa kesepian.
  2. Dampak perilaku : misalnya perilaku dalam bekerja diantaranya peledakan emosi dan berperilaku impulsif, seperti makan ataupun belanja berlebihan.
  3. Dampak kognitif : Ketidakmampuan mengambil keputusan yang sehat, daya konsentrasi menurun, kurang perhatian/ rentang perhatian yang pendek, sangat peka terhadap kritik/ kecaman dan hambatan mental.
  4. Dampak fisiologis : Kandungan glukosa darah meninggi, denyut jantung dan tekanan darah meningkat, mulut kering, berkeringat, bola mata melebar, dan tubuh panas dingin.
  5. Dampak kesehatan : Sakit kepala dan migrain, mimpi buruk, sulit tidur (insomnia), gangguan psikosomatis.
  6. Dampak organisasi : Produktivitas menurun/ rendah, terasing dari mitra kerja, ketidakpuasan kerja, menurunnya keterikatan dan loyalitas terhadap instansi.

Stres mempunyai peranan yang begitu besar pengaruhnya yang dapat dirasakan oleh individu yang bersangkutan. Pengaruh langsung yang dirasakan oleh individu biasanya berupa kecemasan, mudah tersinggung, kesulitan berkonsentrasi, putus asa dan sedih. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan individu sebagai upaya untuk meminimalisir dampak stres yang dirasakan, diantaranya yaitu :

  1. Meredakan ketegangan sejenak melalui relaksasi otot. Selain latihan pernapasan, berlatih relaksasi otot dapat menurunkan ketegangan otot yang dirasakan di saat seseorang sedang stress (Norelli SK, Long A, Krepps JM. Relaxation techniques. In: StatPearls, 2020).
  2. Melatih Mindfullness. Dilakukan dalam rangka menemukan cara untuk hidup lebih mindfull/ agar menjadi lebih menyadari terhadap apa yang terjadi pada diri serta lingkungan; tidak hanya dalam beberapa menit tapi bisa sepanjang hari atau bahkan sepanjang  kehidupan kita (Richards KC, Campenni CE, Muse-Burke JL. Self-care and well-being in mental health professionals: The mediating effects of self-awareness and mindfullnes. J Ment Health Couns. 2010).
  3. Melakukan hobi atau kegiatan menyenangkan lainnya (Qian X, Yarnal CM, Almeida DM. Does leisure time moderate or mediate the effect of daily stress on positive affect? An examination using eight-day diary data. J Leis Res. 2014). Refreshing diperlukan bagi setiap orang dalam hidupnya agar hidup lebih seimbang. Hal ini digunakan untuk memperoleh suasana baru yang jauh dari kepenatan sehingga pikiran lebih jernih dan memiliki semangat baru untuk menghadapi situasi yang memiliki sumber stres. Melakukan kegiatan yang menyenangkan dapat mengalihkan sejenak rasa penat yang dialami, mulai dari berlibur, atau melakukan hobi seperti bercocok tanam, melukis, bersepeda, memasak, dan sebagainya; atau melakuan aktivitas bersama dengan orang terkasih seperti dengan pasangan ataupun anak, misal berlibur, menonton film bersama, dan hal lainnya. Bahkan suatu studi menyatakan bahwa dengan berjalan sejenak; entah itu masih di lingkungan kerja namun dengan pemandangan yang berbeda, atau pergi ke taman untuk istirahat sejenak, hal tersebut adalah cara sederhana tapi efektif untuk menyegarkan pikiran dan tubuh kita (Sharma A, Madaan V, Petty FD. Exercise for mental health. Prim Care Companion J Clin Psychiatry. 2006).
  4. Merubah gaya hidup. Asupan makan yang bergizi, banyak memakan buah-buah-buahan, tidak merokok dan minum alkohol, serta menyempatkan waktu untuk berolahraga, dapat meringankan stres yang sedang dialami. Latihan rutin dapat membantu mengurangi stres; aktivitas aerobik dapat membantu meningkatkan toleransi frustrasi. Di samping itu, dengan berolahraga dapat membuat menjernihkan pikiran, misalnya dengan olahraga lari ataupun yang lebih berat lagi; dimana hal ini dapat menjernihkan sudut pandang seseorang terkait masalah yang dihadapi (Kim YR, Choi HG, Yeom HA. Relationship between exercise behavior and anger control of hospital nurses. Asian Nurs Res. 2019).
  5. Mendekatkan diri secara spiritual. Mendekatkan diri kepada Sang Pencipta serta berkeluh kesah, pada beberapa orang bisa mendatangkan ketenangan diri sehingga menjadi lebih tenang dalam menghadapi situasi stres (Resti Rohim. Skripsi Hubungan Antara Spiritualitas Dan Manajemen Stres Pada Individu Paruh Baya. Fakultas Psikologi UMM. 2016).
  6. Sharing/ berbagi cerita. Manusia adalah mahluk sosial, jadi ia akan membutuhkan orang lain dalam hidupnya. Dengan berbagi dengan seseorang yang dipercaya dan dianggap nyaman, individu setidaknya dapat melepaskan kepenatan yang dirasakan sebagai dampak dari stres yang dialami. Hasil penelitan dalam jurnal Social Psychological and personality science; University of Southern California’s Marshall School of Business menunjukkan bahwa jika seseorang mengungkapkan keluhan stres yang ia alami kepada orang lain, rasa takut dan cemasnya menjadi berkurang dan menjadi lebih rileks.  Jika membutuhkan lebih dari simpati dari teman, dengan menemui ahli jiwa, baik psikolog maupun psikiater, individu dapat berdiskusi dan diberi masukan akan permasalahan yang dialami sehingga ia lebih terbuka wawasannya, dan bisa lebih memahami apa yang terjadi pada dirinya serta mendapatkan alternatif solusi yang mungkin tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Untuk menemukan strategi pereda stres memerlukan beberapa eksperimen. Beberapa strategi pun memerlukan latihan untuk dilakukan. Akan tetapi sangatlah penting untuk tetap mencari cara yang dapat membantu kita mengatur kehidupan yang kadangkala ‘stabil dan tidak’ dengan cara menghadapinya secara lebih sehat. Mengatur tingkat stres tentunya akan menjadi penting dan berpengaruh terhadap keseluruhan kondisi kehidupan dan kesejahteraan kita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *